Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Polling

Informasi Apakah Yang Pengunjung Lihat Ketika Mengunjungi Website ini?
 
STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN TERINTEGRASI

PENDAHULUAN entry poin karena diyakini akan lebih stabil, sustain dan lebih memiliki ketahan dari segi ekonomi. Selain itu, kenyataan di lapangan juga menunjukkan bahwa relatif tidak ada petani yang 100% monokultur. go Organik.

KERANGKA KONSEPTUAL PERTANIAN TERINTEGRASI

Pertanian terintegrasi (integrasi tanaman-ternak) adalah suatu sistem pertanian yang dicirikan oleh keterkaitan yang erat antara komponen tanaman dan ternak dalam suatu usahatani atau dalam suatu wilayah. Adapun ciri keterkaitan tersebut antara lain: adanya penggunaan sumberdaya yang beragam seperti hijauan, residu tanaman dan pupuk organik yang dihasilkan ternak dalam suatu proses produksi dan dalam suatu siklus hara. Hal yang terpenting juga yang perlu dipahami dari konsep integrasi tanaman-ternak di mana hal ini diharapkan dapat menghentikan dan membalik arah spiral yang menurun sebagai akibat dari praktek-praktek pertanian yang merusak sumberdaya lahan dan menurunkan produktivitas pertanian. Melalui proses pembalikan arah, diharapkan petani yang tinggal di daerah marginal, dapat secara perlahan keluar dari jerat kemiskinan

Keterkaitan yang kuat antara tanaman-ternak diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal. Undang-Undang No.7 tahun 1996 tentang ketahan pangan menyebutkan bahwa ketahan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi rumahtangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah, mutu, aman, merata dan terjangkau. Demikian juga tanaman-ternak, diharapkan semakin memperkuat ketahanan pangan, jika dibandingkan dengan situasi apabila produksi tanaman-ternak dilakukan sendiri pada tempat yang terpisah.

Selain itu, integrasi tanaman-ternak dalam kerangka konsep yang lebih luas bertujuan untuk: (a) mengoptimalkan proses daur hidup alami ; (b) melindungi dan memperbaharui kesuburan lahan; (c) mengoptimalkan manajemen dan pemanfaatan sumberdaya on farm; (d) mengurangi penggunaan input yang tidak dapat diperbaharui; (e) menyediakan alternatif sumber pendapatan bagi petani; (f) memberi peluang kesempatan kerja di sektor pertanian, dan (g) mengurangi dampak negatif yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, kehidupan alami, kualitas air dan lingkungan. Crop Livestock System), ICM (Integrated Crop Management) yang kemudian diadopsi menjadi P3T (Peningkatan Produktivitas Tanaman Terpadu) dan selanjutnya menjadi program SL-PTT (Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu). Demikian juga halnya dengan program Badan Litbang lainnya seperti Prima Tani juga sangat akrab dengan model pendekatan ini (Litbang, 2004). Oleh karena itulah seluruh Prima Tani di Bali sebanyak tujuh lokasi, baik yang ditumbuhkan tahun 2005 maupun 2007 menggunakan model pendekatan ini. Beberapa pakar menyatakan model ini sebagai model integrasi fungsional, karena cara ini menekankan adanya rantai ekosistem pemanfaatan bahan organik (bio- massa). Selain itu, dalam perspektif lingkungan dan ekonomi, model ini juga disebut sebagai model pendekatan tekno ekologis, karena berupaya untuk menyelaraskan aspek ekonomi dengan aspek lingkungan yan lakar megae ke carik, ubuhang ibane sampi" yang berarti:‖ kalau hendak bekerja di sawah (jadi petani) peliharalah sapi‖ Dalam konteks ini, ternak sapi berperan multifungsi yaitu sebagai: tenaga kerja, sumber pupuk kandang, protein, tabungan hidup dan juga status sosial. Dalam bahasa yang lebih gamblang, dapat dikatakan sosok petani tidak akan lengkap jika belum memelihara ternak.

REPLIKASI MODEL MENUJU BALI ORGANIK

Sejalan dengan dengan visi ‖Bali Mandara‖ Bali yang ‖maju-aman-damai-sejahtera‖, maka upaya peningkatan pendapatan petani dua kali lipat dalam lima tahun mustahil dapat dilakukan tanpa sentuhan Green Province‖. Menjadikan suatu kawasan sebagai kawasan organik, akan lebih efisien dilakukan dengan model integrasi tanaman-ternak secara insitu, artinya tanaman-ternak tersebut berada dalam satu kawasan, bahkan dalam satu manajemen. Percontohan Simantri telah dilaksanakan dalam spirit tersebut dan ke depan petani di Bali diharapkan secara perlahan mulai mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan beralih ke pupuk organik. Untuk mempercepat realisasi program ini, kini Pemda Bali telah merancang kebijakan untuk mengurangi subsidi penggunaan pupuk anorganik dan meningkatkan subsidi pupuk organik. people oriented‖ di mana dalam pandangan ini, masyarakatlah yang paling paham tentang masalah yang dihadapi dan sekaligus mencari alternatif pemecahannya, sementara pemerintah memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Oleh karena itu program Simantri hendaknya terus dan konsisten dikembangkan dalam koridor ini. Hal ini berarti, Bansos yang digulirkan untuk percontohan Simantri hanya bersifat stimulus yang selanjutnya harus dikembangkan dan digulirkan oleh masyarakat. Pemahaman ini perlu ditanamkan kepada Gapoktan, Tim Pembina dan Tim Teknis dan para pendamping program Simantri di lapangan untuk keberlanjutan program ke depan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Rencana Strategis BPTP Bali. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Denpasar.

Badan Litbang Pertanian. 2004. Panduan Pengkajian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta.

BPS, 2009. Bali Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Propinsi Bali.

Guntoro, S., Ngurah Badung, A., Gunawan, Sriyanto. 2009. Laporan Akhir Prima Tani Lahan Kering Dataran Tinggi Iklim Basah di Kabupaten Buleleng. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali.

Adijaya, N., Trisnawati, W., Mahaputra, K., Agus, K. 2009. Laporan Akhir Prima Tani Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering di Kabupaten Buleleng. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali

inovasi. Di samping itu, secara eksplisit, visi ‖Bali Mandara‖ juga sebenarnya juga mengandung makna perlunya terobosan teknologi untuk menuju petani/masyarakat sejahtera. Hal ini tercermin dari gatra ‖maju‖ dalam visi tersebut. Bertitik tolak dari semua itu, maka Gubernur Bali setelah melihat pengalaman sukses Prima Tani akhirnya berketetapan untuk mengadopsi model pertanian terintegrasi menjadi program unggulan Pemda Bali yang dikenal dengan program Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi) untuk 3-4 tahun ke depan (Anonim, 2009)

Sampai dengan tahun 2010 ini, Pemda Bali telah mereplikasi model Simantri untuk 50 lokasi (10 lokasi di tahun 2009 dan 40 lokasi tahun 2010). Setiap paket Simantri terdiri dari 20 ekor sapi yang dilengkapi unit kandang koloni, instalasi pengolahan pakan, pengolahan kompos, biourine dan percontohan biogas. Setiap paket senilai sekitar Rp 200 sd Rp 250 juta yang diformat dalam bentuk Bantuan Sosial (Bansos) yang disalurkan ke rekening Gabungan Kelompoktani atau Gapoktan. Bansos ini kemudian dikerjakan secara swakelola mengacu pada Juklak yang telah disiapkan. Setiap tahun sampai dengan tiga tahun ke depan, Pemda Bali merencanakan menambah sekitar 40-50 unit Simantri. Unit Simantri ini diharapkan akan menjadi percontohan usaha pertanian yang ramah lingkungan.

Program Simantri, merupakan salah satu bentuk upaya nyata Pemda Bali dalam menuju Bali Organik, bahkan ke depan Bali diharapkan menjadi ‖

Menjadikan program Simantri sebagai ‖entry point‖ menuju Bali Organik, setidaknya telah memenuhi syarat sebagai suatu bentuk kebijakan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya: (a) kemauan politik atau ‖political will‖ yang tercermin dari visi Gubernur; (b) adanya percontohan atau ‖pilot project‖dilengkapi tenaga pendamping; (d) dukungan anggaran dalam bentuk APBD dan (e) dukungan kebijakan dalam bentuk payung hukum yang diatur dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur. Bahkan untuk mendapatkan dukungan inovasi dan juga anggaran APBD Provinsi dan Kabupaten secara berkelanjutan, Gubernur Bali telah menandatangani MoU dengan Badan Litbang Pertanian yang ditindaklanjuti dengan MoU serupa antara Gubernur Bali dengan Bupati/Walikota se Bali.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berbagai keunggulan pertanian terintegrasi telah diuraiakan dan didiskusikan dalam tulisan ini. Apabila hal ini dapat dikelola dengan baik, model ini dapat memantapkan keswadayaan/kemandirian petani dalam bentuk 4 F yaitu food, feed, fertilizer dan fuel (biogas). Strategi pengembangan pertanian terintegrasi dapat dilakukan dengan mencermati potensi tanaman-ternak yang dominan, penyusunan model integrasi, aplikasi teknologi, optimalisasi daya dukung, pengembangan model dan kelembagaan, pengelolaan secara partisipatif, serta monitoring dan evaluasi. Dalam rangka menuju Bali Organik, Pemda Bali telah mengadopsi model pertanian terintegrasi (Prima Tani) yang telah dikembangkan di 50 lokasi/desa sampai dengan tahun 2010 dalam bentuk program Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri). Program Simantri adalah bentuk upaya nyata Pemda Bali dalam rangka menuju Bali Organik.

Merujuk pada paradigma ‖

Dari uraian di depan, berkaitan dengan integrasi tanaman-ternak dapat diktakan ada tiga fungsi pokok yang diemban oleh model ini, yaitu: (a) memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi; (b) memperkuat ketahanan pangan lokal, dan (c) memelihara keberlanjutan lingkungan. Ketiga fungsi tersebut terlihat, karena dalam berbagai studi tentang integrasi tanaman-ternak akan selalu muncul variabel tentang efisiensi, efektifitas, kuantitas dan kualitas produksi dalam perspektif usahatani berkelanjutan.

Badan Litbang Pertanian dalam lima tahun terakhir sangat gencar mengintroduksikan inovasi teknologi yang berbasis integrasi tanaman-ternak. Beberapa contoh inovasi tersebut di antaranya: CLS (

Secara tradisional sebenarnya petani telah mengenal sejak lama model pertanian terintegrasi. Banyak budaya dan kearifan lokal di berbagai daerah memberikan apresiasi terhadap praktek usahatani ini. Salah satu di antaranya budaya Bali, di mana ada ungkapan ―

Kembali pada pembahasan tentang pertanian terintegrasi dalam hal ini model pertanian tekno ekologis. Model pertanian ini sangat selaras dengan alam (ekosistem) yang diperkuat dengan sentuhan teknologi maju. Pertanian ini berorientasi menciptakan siklus zat-zat makanan /biomasa secara tertutup (melingkar) sehingga cenderung utuk memanfaatkan sumberdaya lokal sebagai input dan menghasilkan produk organik. Pemutaran siklus zat-zat makanan/biomassa secara tertutup dan berlingkar-lingkar akan menciptakan relung-relung baru dalam rantai ekosistem yang dapat menghasilkan produk organik, sumber pendapatan baru dan lapangan kerja baru. Karena itu model pertanian tekno ekologis, bisa menjadi model pertanian masa depan.

Kristalisasi dari konsep dan pemahaman tentang pembangunan pertanian terintegrasi dalam bentuk tindakan nyata, adalah bentuk dari strategi penanganan pertanian terintegrasi. Adapun strategi yang dapat dikemukakan berkaiatan dengan topik ini antara lain: (a) mengidentifikasi secara cermat komoditas tanaman-ternak yang memiliki peranan sebagai titik ungkit secara ekonomi; (b) membangun pola integrasi yang mampu menggambarkan adanya hubungan fungsional antara tanaman-ternak dengan prinsip‖zero waste‖; (c) memberi sentuhan teknologi maju dalam setiap komponen yang membangun model integrasi tersebut; (d) menghitung secara cermat daya dukung lahan/tananam untuk penyediaan pakan ternak dan sebaliknya penyediaan limbah ternak untuk pupuk tanaman; (e) mengupayakan untuk memperpanjang rantai ekosistem fungsional sesuai sumberdaya yang ada; (f) menyiapkan kelembagaan yang siap mengelola model integrasi ini; (g) mengoptimalkan peran masyarakat secara partisipatif, dan (h) melakukan monitoring dan evaluasi untuk penyempurnaan model yang telah terbangun.

Pengalaman BPTP Bali dalam pendampingan model pertanian terintegrasi khususnya dalam Prima Tani, ternyata pendekatan dengan cara ini mampu memberikan dampak ekonomi secara signifikan. Di Desa Sepang Buleleng, dengan pola integrasi kopi-kambing, pendapatan awal petani Rp 5.721.700,- tahun 2005, meningkat menjadi Rp14.189.200,- tahun 2008 atau meningkat 148% (Guntoro, dkk. 2009). Demikian juga di Desa Sanggalangit Buleleng, pada kawasan lahan marginal dengan pola integrasi jagung/ hortikultura-sapi yang didukung irigasi embung, dapat meningkatkan pendapatan dari Rp 4.094.000,- tahun 2005 menjadi Rp 9.696.300,- tahun 2008, meningkat 136,84 % (Adijaya, dkk. 2009). Sebagai informasi tambahan, dapat dikemukakan bahwa hasil studi serupa oleh Tim Anjak Badan Libang Pertanian tahun 2005 di Bali, bahwa usahatani padi-sapi yang dikelola secara parsial memberi keuntungan total Rp 3.492.000,- sedangkan yang dikolola secara terpadu (integrasi) sebesar Rp 4.430.000,-per musim, sehingga ada peningkatan pendapatan 29,29%.

Seperti diketahui bersama, Provinsi Bali dengan luas wilayah sekitar 5.632 km2 (0.19% dari luas wilayah Indonesia) dengan jumlah penduduk 3,4 juta jiwa tidak memiliki sumberdaya alam yang besar seperti tambang, hasil hutan dan sumberdaya alam berharga lainnya. Bali hanya memiliki sumberdaya lahan pertanian seperti: sawah 78.000 Ha; lahan kering dan perkebunan 247.000 Ha dan hutan seluas 130.687 Ha. Sementara sebagian penduduk (36,03%) masih menggantungkan hidupnya dari sektor Pertanian (BPS, 2009).

Berpijak dari hal itu, strategi perencanaan Penelitian dan Pengkajian (Litkaji) di BPTP Bali harus cermat menyikapi basis data ini. Hal ini kemudian dituangkan dalam Visi BPTP Bali lima tahun terakhir yaitu konsen pada penciptaan/perakitan paket teknologi pertanian ―kreatif‖ yang tiada lain dimensinya adalah: (a) sadar akan keterbatasan sumberdaya alam yang dimiliki Bali; (b) di lain pihak petani atau masyarakat Bali dikenal sebagai inventor yang kreatif; (c) ada nilai tambah yang akan didapat bagi petani; dan (d) menjadikan sektor pertanian tetap menarik bagi masyarakat/petani. Lebih detail, hal ini kemudian dituangkan dalam lima (5) ciri pokok Litkaji di BPTP Bali, yaitu: (a) berorientasi pada pertanian ekologis; (b) mengoptimalkan potensi sumberdaya lokal; (c) penciptaan nilai tambah dan peluang kerja; (d) bersifat inklusif dan akomodatif, dan (e) atraktif dan monumental.

Berkaitan dengan strategi Litkaji dalam lima tahun terakhir, tepatnya sejak tahun 2005 Badan Litbang Pertanian menetapkan program unggulan dalam rangka optimalisasi potensi sumberdaya pedesaan dalam bentuk Prima Tani (Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian). Sasaran akhir program ini adalah terwujudnya Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) yang berbasis komoditas unggulan dengan titik ungkit ekonomi dominant. Sementara keragaman potensi sumberdaya lain yang ada di pedesaan, juga dikembangkan ke arah terwujudnya Sistem Usahatani Intensifikasi dan Diversifikasi (SUID).

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, kemudian menyikapi dan mengaplikasikan program Prima Tani ini dalam bentuk integrasi tanaman-ternak, mengingat rata-rata pemilikan/penguasaan lahan petani di Bali relatif sempit. Di samping itu dipilihnya model integrasi tanaman-ternak sebagai

Hubungan sinergis tanaman-ternak akan diharapkan dapat menjadi pemicu dalam mendorong pertumbuhan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi wilayah/ pedesaan. Oleh karena itu, ditetapkan tujuan dari penulisan makalah ini adalah: (a) memberikan gambaran/informasi tentang keunggulan pertanian terintegrasi; (b) mengidentifikasi berbagai strategi pembangunan pertanian terintegrasi dalam mendukung pertanian organik, dan (c) memberikan sekilas gambaran tentang aplikasi pertanian terintegrasi di Bali dalam rangka Bali

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com